Logo Tatakelola strategi

China Sedang Menulis Ulang Aturan Permainan Energi Global Berbasis Energi Bersih

China Sedang Menulis Ulang Aturan Permainan Energi Global Berbasis Energi Bersih

Dalam kurun 2015–2025, China memantapkan diri sebagai pengembang energi bersih terbesar dunia. China menyumbang sebagian besar kapasitas energi terbarukan baru di dunia. Pada 2024, negara ini menambah rekor 357 GW tenaga angin dan surya. Jauh melampaui negara lain. Diperkirakan China menyuplai lebih dari 60 % dari kapasitas baru terpasang global pada 2024 saja. Dalam hal rantai suplai, China mendominasi hampir semua tahap produksi teknologi bersih: sekitar 80 % dari kapasitas manufaktur panel surya dunia, lebih dari 95 % produksi wafer dan polisilikon, serta sekitar 77 % kapasitas sel baterai lithium‑ion global. Untuk kebutuhan energi dalam negeri, capaian produksi listrik bersih total  mencapai 951 TWh di awal 2025, naik dari 34 % menjadi 39 % dari kebutuhan total listrik China dalam setahun.

Dominasi ini berarti energi bersih China berdampak besar pada ketersediaan, harga, dan arah inovasi teknologi bersih global, sekaligus mulai menggeser pengaruh geopolitik energi dari fosil ke era energi bersih yang baru. Kontrol atas teknologi dan rantai suplai energi bersih kini sama strategisnya dengan kontrol minyak dan gas di masa lalu. Dominasi China di era transformasi energi bersih dalam 10 tahun terakhir ini bahkan diperkirakan mencapai puncak Ketika energi bersih lebih dominan dibandingkan energi fosil pada pertengahan abad ini (2040-2060).

Tak heran, China telah mengubah energi bersih  menjadi alat diplomasi geopolitik energi yang kuat. Ia merebut inisiatif dalam geopolitik global, menciptakan aliansi baru berbasis kerja sama rendah karbon, dan menulis ulang aturan permainan energi dunia abad ini. Tidak lagi sekadar pemain besar dalam produksi panel surya atau baterai, China kini memanfaatkan kekuatan ekonominya di sektor energi bersih untuk memperluas pengaruh geopolitiknya dengan membangun aliansi, memperkuat hubungan bilateral, dan mendefinisikan ulang struktur kekuatan energi abad ini.

Salah satu manifestasi paling jelas dari perubahan ini adalah cara China memasukkan energi bersih ke dalam Belt and Road Initiative (BRI). Sejak diluncurkan pada 2013, BRI telah menjadi platform investasi besar China di seluruh dunia, awalnya banyak berfokus pada infrastruktur tradisional. Namun data terbaru menunjukkan bahwa keterlibatan China di sektor energi di bawah BRI pada paruh pertama 2025 mencapai rekor tertinggi sejak inisiatif itu ada yakni sekitar US$44 miliar, termasuk hampir US$9,7 miliar dalam energi hijau seperti tenaga surya, angin, dan pembangkit waste-to-energy. Ini cermin perubahan nyata dalam arah investasi energi China.

Tren ini juga dipertegas oleh pergeseran dalam kapasitas pembangkit yang dibangun: pada paruh pertama 2025, proyek BRI yang didukung China menambah sekitar 15 GW kapasitas listrik baru, dengan kontribusi kuat dari solar (4,9 GW) dan wind (4,4 GW). Sementara keterlibatan dalam energi fosil seperti gas tetap ada, investasi dan konstruksi proyek hijau meningkat tajam dari tahun ke tahun.

Lebih dari sekadar angka, transformasi ini mencerminkan strategi diplomasi energi bersih yang matang. China kini membantu banyak negara mitra menginstal infrastruktur energi bersih termasuk solar, wind, dan hydropower  serta mendukung pembangunan ekosistem manufaktur energi bersih lokal. Contohnya, perusahaan seperti Longi Green Energy Technology terlibat dalam pengembangan proyek green hydrogen besar di Nigeria, sementara investasi besar di fasilitas baterai industri menyerap produk teknologi China sekaligus memperkuat jejak industrinya di luar negeri.

Pemerintah China menyatakan bahwa sejak 2021 China berkomitmen tidak membangun pembangkit listrik tenaga batu bara baru di luar negeri dan memprioritaskan proyek energi bersih serta rendah karbon dalam strategi pembangunan berkelanjutan. Kebijakan yang mencerminkan keinginan China untuk dipandang sebagai pemimpin transisi energi global, bukan sekadar pemasok teknologi bersih domestik. Keputusan ini juga memaksa mitra-mitra BRI melihat China sebagai sumber solusi energi masa depan, bukan hanya sebagai kontraktor infrastruktur tradisional.

Di luar Belt and Road Initiative (BRI), Beijing kini menjalin mekanisme kerja sama energi antar‑pemerintah dengan lebih dari 90 negara dan wilayah, memperkuat kemitraan melalui dukungan teknis, pembiayaan proyek, dan pelatihan kapasitas untuk mempercepat transisi energi bersih mitra mereka. Hal ini memperlihatkan China bukan hanya sebagai produsen teknologi bersih tetapi sebagai mitra pembangunan energi berkelanjutan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Platform kerja sama regional seperti APEC Sustainable Energy Center menjadi ruang penting di mana negara‑negara membahas standar, regulasi, dan strategi transisi hijau bersama China sebagai power broker yang memiliki kapasitas manufaktur dan teknologi besar. Empat wilayah utama — Asia‑Pasifik, Arab, Afrika, dan Asia Tengah — kini memiliki forum kerja sama energi yang dilahirkan atas inisiatif China untuk memperkuat kolaborasi hijau.

Dimensi ekonomi dari diplomasi ini juga signifikan. Laporan Climate Energy Finance menunjukkan perusahaan China telah menginvestasikan sekitar US$80 miliar dalam teknologi bersih di luar negeri selama setahun terakhir, membawa total foreign direct investment (FDI) hijau globalnya lebih dari US$180 miliar sejak awal 2023. Investasi ini mencakup panel surya, baterai EV, green hydrogen, dan sistem penyimpanan energi, terutama di pasar berkembang yang kurang dilayani oleh investasi global.

Di arena multilateral, Beijing juga memanfaatkan konferensi iklim global seperti COP untuk menekankan peranannya dalam inovasi teknologi bersih dan mendorong negara maju lainnya memperkuat komitmen mereka. Strategi ini memperkuat persepsi bahwa China bukan hanya mengejar target domestik tetapi juga memainkan peran penting dalam transisi energi global. Diplomasi energi bersih China mewakili perubahan fundamental dari tatanan energi global berbasis fosil yang selama puluhan tahun dikuasai oleh minyak, gas, dan batubara. Di era sebelumnya, hubungan energi antar negara ditentukan oleh aliansi dan konflik seputar sumber daya fosil. Kini China mendorong transisi ke energi terbarukan secara besar‑besaran, memasang kapasitas angin dan surya yang lebih cepat daripada ekonomi lain dan menempatkan listrik sebagai penggerak utama perekonomian domestiknya serta global. Tren ini ikut mendorong penurunan permintaan bahan bakar fosil secara struktural dan memaksa negara lain untuk mengubah kebijakan energi mereka, menjadikan teknologi energi bersih bukan hanya alternatif tetapi tulang punggung strategi energi masa depan dunia. Inilah yang sedang ditulis ulang oleh China melalui diplomasi energi bersihnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *