Logo Tatakelola strategi

Apakah Blok Baru Bisa Menggantikan AS?

Apakah Blok Baru Bisa Menggantikan AS?

Di awal abad ke‑21, wacana tentang tatanan dunia baru semakin menguat. Desakan negara‑negara berkembang untuk memiliki suara lebih besar dalam sistem internasional yang selama puluhan tahun didominasi oleh struktur yang dipimpin Amerika Serikat telah menciptakan momentum bagi organisasi seperti BRICS dan Shanghai Cooperation Organisation (SCO). Tidak heran jika banyak pengamat bertanya: Apakah kita sedang menyaksikan lahirnya kekuatan alternatif yang bisa benar‑benar menandingi peran AS di panggung global?

Secara statistik, blok seperti BRICS memang tampak menjanjikan. Anggota BRICS kini mencakup hampir 40 % populasi dunia dan puluhan persen dari PDB global melalui ekspansi anggota yang signifikan, termasuk negara‑negara baru seperti Uni Emirat Arab dan Iran. Ini memberi gambaran bahwa kelompok ini mewakili kekuatan demografis dan ekonomi yang tak kecil. Bahkan kontribusi BRICS terhadap PDB dunia melalui PPP mencapai angka yang kompetitif dengan kelompok negara maju tradisional.

Namun di balik angka besar itu, ada realitas yang lebih kompleks yang menunjukkan bahwa aspirasi menjadi kekuatan global seimbang tidak semudah lanskap statistik. Pertama, BRICS tidaklah homogen. India, misalnya, memiliki prioritas strategis yang berbeda dari China atau Rusia. India berusaha memperluas pengaruhnya di Asia Selatan dan memperkuat hubungan dengan Barat secara selektif, sementara China melihat BRICS sebagai salah satu cara untuk memperluas jaringan pengaruhnya dan menantang dominasi struktur Barat yang lama. Ketidakharmonisan ini mencerminkan bahwa blok ini memang terlihat menjanjikan di atas kertas, tetapi kurang kohesif secara politik.

Kedua, sementara BRICS telah menciptakan beberapa alat lembaga seperti New Development Bank (NDB) dan Contingent Reserve Arrangement (CRA) sebagai alternatif sistem pendanaan internasional, lembaga‑lembaga ini belum mampu menyaingi institusi mapan seperti IMF atau Bank Dunia yang dikendalikan oleh Barat dan masih menggunakan dominasi dolar AS dalam sistem keuangan global. Dominasi ini bukan hanya soal angka. Ini soal kepercayaan investor terhadap sistem moneter, likuiditas, dan keamanan finansial global. Komponen yang sulit digantikan dalam waktu dekat.

Lalu ada SCO, yang sudah lebih lama beroperasi dibandingkan BRICS dan sering digambarkan sebagai forum kerja sama strategis regional di Eurasia yang meliputi keamanan, ekonomi, dan politik. Di atas kertas, SCO memiliki jangkauan yang luas dan sesungguhnya bisa menjadi platform diplomasi penting bagi negara‑negara anggotanya. Namun peran SCO sering kali lebih bersifat regional daripada global. Fokus utamanya tetap pada isu stabilitas kawasan dan kerja sama antarkedua kekuatan besar seperti China dan Rusia, bukan pada supremasi global secara menyeluruh.

Di satu sisi, keanggotaan Indonesia di BRICS, yang terjadi pada awal 2025, menjadi contoh bagaimana negara berkembang menilai blok ini sebagai wadah yang bisa memperkuat posisi global mereka. Kepala negara Indonesia bahkan menegaskan bahwa BRICS memiliki potensi menjadi salah satu pilar penting bagi stabilitas dan harapan di tengah gejolak geopolitik internasional yang menandakan bahwa negara‑negara anggota melihat nilai tertinggi dalam kerja sama daripada dalam kompetisi langsung dengan tatanan global AS.

Namun, fakta bahwa banyak anggota BRICS justru memiliki hubungan bilateral yang signifikan dengan AS dan negara Barat menunjukkan kenyataan pragmatis dalam politik luar negeri mereka. Banyak negara berkembang yang menilai keanggotaan BRICS sebagai strategi diversifikasi hubungan agar tidak sepenuhnya bergantung pada Barat atau China. Bukan sekadar misi untuk mengganti posisi global AS.

Ini membawa kita pada titik penting bahwa stabilitas jangka panjang dalam sistem internasional tetap sangat bergantung pada komitmen aktif negara‑negara besar terutama AS karena sulit membayangkan adanya koalisi yang secara konsisten dapat benar‑benar mengimbangi kekuatan global seperti AS tanpa adanya interaksi, integrasi, atau setidaknya dukungan dari Amerika Serikat dalam beberapa aspek. Dominasi AS bukan hanya soal kekuatan militer atau ekonomi kasar. Ini soal sistem institusional global seperti struktur hukum internasional, aliansi militer seperti NATO, dominasi dalam lembaga keuangan internasional, serta jaringan perjanjian dan dukungan diplomatik yang luas yang telah terbangun sejak Perang Dunia II.

Trajektori hubungan internasional dalam beberapa dekade terakhir juga memperlihatkan pola di mana kekuatan besar tidak mudah digantikan oleh blok yang dibentuk secara tidak formal dengan kepentingan nasional yang berbeda‑beda. BRICS saat ini bukanlah koalisi monolitik dengan doktrin dan strategi global tunggal. Ini lebih merupakan jaringan kerja sama pragmatis yang kadang bersifat sinergis, kadang pula bersifat kompetitif internal, terutama antara anggota yang punya ambisi regional yang berbeda.

Kemudian datang juga dinamika geopolitik yang berubah cepat, termasuk perubahan kebijakan luar negeri negara besar lain seperti China, dan respons Amerika Serikat melalui berbagai pendekatan diplomatik maupun militer. Sementara AS masih mempertahankan jaringan global melalui aliansi dan kemitraan strategis, China dan sekutunya terus membangun jalur kerja sama alternatif yang menekankan multipolaritas. Namun multipolaritas ini tidak otomatis setara dengan blok tunggal yang bisa menggantikan peran hegemonik AS; ini lebih mengarah pada fragmentasi kekuatan yang memberi ruang bagi beberapa kutub berinteraksi dalam sistem yang lebih kompleks.

Kita juga perlu melihatnya dari perspektif dinamika global yang lebih luas yakni  konflik geopolitik baru seperti di Timur Tengah, perang Ukraina, perubahan sikap AS terhadap aliansi regional, serta inisiatif infrastruktur dan investasi China seperti Belt and Road. Semua ini bukan hanya menantang struktur lama, tetapi juga menciptakan rezim baru aturan dan kepentingan yang saling bertumpuk. Ini membuat dunia bergerak menuju bentuk tatanan multipolar yang lebih heterogen, bukan tatanan bipolar yang digerakkan oleh blok tunggal yang jelas.

Di sisi lain, negara‑negara kecil dan menengah semakin memainkan peran signifikan dalam menavigasi antara kekuatan besar ini, dengan strategi bebas‑aktif atau nonblok untuk mengamankan stabilitas nasional mereka sendiri. Ini mencerminkan bahwa masa depan tatanan dunia bukan hanya diatur oleh pemenang blok besar, tetapi oleh pluralitas kepentingan dan kepakaran dalam diplomasi global yang semakin kompleks.

Blok seperti BRICS atau SCO sejatinya telah memainkan peran penting dalam memperluas dialog internasional, memberikan platform bagi negara‑negara berkembang, dan mendorong gagasan multipolaritas yang lebih inklusif. Mereka telah menantang struktur global yang lama dan menawarkan alternatif dalam berbagai dimensi baik ekonomi, politik, dan diplomasi multilateralis.

Namun, menggantikan peran global Amerika Serikat secara konsisten dalam sistem internasional saat ini masih tampak jauh dari kenyataan. Ketergantungan pada dukungan AS dalam lembaga keuangan global, sistem keamanan kolektif, serta jaringan diplomatik yang luas tetap menjadi pilar utama stabilitas global. BRICS dan SCO mungkin semakin relevan dalam era multipolar, tetapi trajektori mereka lebih terlihat sebagai pengimbang atau pelengkap daripada pengganti absolut peran Amerika Serikat. Dan pada akhirnya, masa depan tatanan dunia kemungkinan tidak berbentuk dominasi tunggal oleh satu kekuatan besar, tetapi sebuah arena multipolar dinamis di mana kekuatan besar, blok regional, dan negara‑negara menengah semuanya bersaing, berkolaborasi, dan menemukan keseimbangan baru dalam sistem global yang terus berubah.

Moch.Yunus, Dosen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Airlangga

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *