Setelah mencapai titik terdekatnya dengan bumi pada 19 Desember 2025 lalu ketika berada disekitar 1,8 AU atau sekitar 270 juta kilometer akhirnya terjawab sudah perdebatan para astronom tentang fenomena ini. Profesor Alvi Loeb dari Universitas Harvard sempat memunculkan kontroversi ketika berpendapat bahwa 40% kemungkinan komet 3i Atlas adalah bukan fenomena alam akibat sejumlah anomali. Tak heran, tanggal 19 Desember 2025 adalah momen yang saat ditunggu banyak pihak. Apa yang kita ketahui kemudian adalah peluang langka untuk menyelami rahasia komet yang berasal dari luar tata surya. Tamu yang bergerak cepat melalui sistem planet kita dan kemudian menghilang kembali ke ruang antarbintang.
Salah satu anomali yang paling mencolok adalah anti-tail yakni struktur ekor yang tampak mengarah ke arah Matahari, bertolak belakang dengan ekor komet pada umumnya yang selalu tertiup menjauhi Matahari akibat tekanan radiasi dan angin surya. Ini bukan sekadar ilusi optik biasa, tetapi terlihat sebagai fitur fisik yang nyata pada 3I/ATLAS, sesuatu yang jarang teramati bahkan pada komet di tata surya kita sendiri. Selain itu, para astronom juga menemukan jet gas dan debu yang bergetar (wobbling) dengan periode sekitar 7 jam 45 menit dalam struktur anti-tail tersebut. Ini menunjukkan rotasi inti yang lebih rumit dari yang biasa diamati. Perilaku seperti ini sebelumnya tidak pernah tercatat secara jelas pada komet antar-bintang. Observasi ini dilakukan selama puluhan malam berturut-turut oleh tim peneliti menggunakan teleskop seperti Two-meter Twin Telescope di Observatorium Teide, yang mendeteksi jet-jet ini muncul pada malam-malam tertentu serta memantau bagaimana struktur tail berubah dari awalnya seperti kipas debu menuju bentuk ekor penuh ketika komet semakin dekat ke Matahari.
Beberapa penelitian juga menangkap pola polarisasi cahaya yang ekstrem, sebuah ciri yang mengisyaratkan struktur debu yang berbeda dari komet biasa. Pada akhirnya, anomali yang terukur pada 3I/ATLAS menunjukkan bahwa ini bukanlah “komet biasa” dalam artian sederhana.
Setelah 19 Desember 2025, penelitian terhadap 3I/ATLAS menunjukkan bahwa meski ia berasal dari kejauhan galaksi, perilakunya lebih mirip komet alami daripada objek buatan teknologi apa pun. Observasi dari James Webb Space Telescope (JWST) mengonfirmasi bahwa coma (lapisan gas dan debu yang menyelimuti inti komet) dominan oleh karbon dioksida (CO₂), dengan rasio CO₂ terhadap H₂O sangat tinggi, jauh di luar kebiasaan komet tata surya. Ini menunjukkan bahwa 3I/ATLAS mungkin terbentuk di lingkungan yang berbeda secara kimia dari komet-komet yang kita kenal, mungkin dekat garis es CO₂ di cakram protoplanet lain.
Temuan lain yang semakin memperkaya narasi adalah emisi sinar-X dari 3I/ATLAS yang terdeteksi oleh observatorium seperti XMM-Newton dan XRISM. Emisi ini berasal dari interaksi gas komet dengan angin Matahari, memberikan dimensi baru dalam memahami struktur dan komposisi gas-gas ringan seperti hidrogen dan nitrogen di sekitarnya. Informasi yang tidak mudah ditangkap oleh teleskop optik biasa.
Fenomena komet 3i Atlas ini menyumbang perkembangan pengetahuan baru kita terhadap fenomena komet. Masih terdengar sejumlah spekulasi tentang kemungkinan komet 3i Atlas ini berkaitan dengan teknologi buatan, namun sebagian besar komunitas ilmiah masih dapat menjelaskannya sebagai komet alami terkait sublimasi es akibat pemanasan matahari dan struktural dinamis inti kecil yang berputar. Struktur dan perilaku komet 3i Atlas bisa tak terduga namun sifatnya tetap konsisten dengan hukum alam. Komet 3i Atlas bukan bukti artefak buatan. Kini, komet 3i Atlas semakin menjauh dari tata surya kita, warisan datanya akan bertahan sebagai petunjuk berharga tentang komet antar-bintang berikutnya yang mungkin akan kita temui.
