Kunjungan Donald Trump ke China pada Mei 2026 menjadi simbol penting perubahan geopolitik dunia saat ini. Selama hampir satu dekade Amerika Serikat memimpin perang dagang dan perang teknologi terhadap China, tetapi pada akhirnya Washington justru datang ke Beijing untuk mencari kompromi. Fakta bahwa pertemuan tersebut diminta oleh Amerika Serikat, bukan oleh China, menunjukkan adanya perubahan besar dalam distribusi kekuatan global. Dunia perlahan bergerak menuju era baru di mana dominasi Amerika tidak lagi absolut, sementara China semakin mampu membangun leverage ekonomi, teknologi, dan geopolitiknya sendiri.
Dalam konteks inilah muncul konsep yang dapat disebut sebagai Pax Silica. Jika pada abad ke-20 dunia mengenal Pax Americana sebagai tatanan internasional yang didominasi Amerika Serikat melalui kekuatan militer, dolar, dan institusi global, maka abad ke-21 mulai memperlihatkan bentuk dominasi baru yang berbasis teknologi, chip semikonduktor, AI, data, dan rantai pasok digital global.
Istilah “Pax Silica” berasal dari kata pax yang dalam tradisi geopolitik berarti tatanan internasional yang dijaga oleh kekuatan hegemon tertentu, sementara silica merujuk pada silikon, fondasi utama industri chip dan teknologi digital modern. Dalam ekonomi global hari ini, chip memiliki posisi strategis yang hampir setara dengan minyak pada abad sebelumnya. AI membutuhkan GPU, drone modern menggunakan semikonduktor, sistem militer berbasis teknologi membutuhkan chip canggih, dan ekonomi digital global berjalan di atas pusat data serta server yang semuanya bergantung pada silikon.
Karena itu, perebutan dominasi chip bukan sekadar persaingan ekonomi biasa, melainkan perebutan kekuasaan strategis global.
Amerika Serikat memahami bahwa kebangkitan China tidak lagi hanya terjadi di bidang manufaktur murah, tetapi mulai bergerak menuju teknologi tinggi. Selama bertahun-tahun AS menikmati posisi dominan dalam inovasi semikonduktor dan teknologi digital melalui perusahaan seperti Nvidia, Qualcomm, Apple, Google, dan Microsoft. Namun kebangkitan industri China mulai mengancam dominasi tersebut.
Inilah yang mendorong Washington membangun strategi Pax Silica: sebuah upaya menciptakan tatanan teknologi global baru yang dipimpin Amerika dan sekutunya untuk membatasi ruang gerak China. Strategi ini terlihat melalui berbagai kebijakan seperti pembatasan ekspor chip Nvidia ke China, sanksi terhadap Huawei, tekanan terhadap TSMC dan ASML, hingga lahirnya CHIPS and Science Act.
Amerika juga mendorong strategi friendshoring, yaitu memindahkan rantai pasok ke negara-negara yang dianggap “bersahabat” secara geopolitik seperti India, Vietnam, Jepang, dan Korea Selatan. Tujuannya bukan semata efisiensi ekonomi, melainkan membangun blok teknologi anti-China.
India kemudian diposisikan sebagai alternatif manufaktur strategis jangka panjang. Washington mendorong Apple memperluas produksi di India dan memperkuat kerja sama geopolitik melalui Quad. Namun di sinilah paradoks besar strategi Amerika muncul.
China ternyata jauh lebih sulit digantikan dibanding yang dibayangkan. Negara itu bukan sekadar “pabrik murah dunia”, melainkan pusat ekosistem industri global dengan jaringan pemasok ribuan perusahaan, infrastruktur logistik raksasa, pelabuhan modern, tenaga kerja industri terampil, dan kapasitas produksi yang belum dapat ditandingi negara lain.
Akibatnya, banyak perusahaan Amerika berada dalam posisi dilematis. Secara geopolitik mereka mengikuti tekanan pemerintah AS untuk mengurangi ketergantungan terhadap China, tetapi secara ekonomi mereka tetap membutuhkan pasar dan rantai pasok China. Apple masih memproduksi sebagian besar perangkatnya di China. Tesla menjadikan Shanghai sebagai basis produksi utama kendaraan listriknya. Nvidia membutuhkan pasar China untuk mempertahankan pertumbuhannya.
Ironisnya, perang teknologi yang dimaksudkan untuk melemahkan China justru mempercepat upaya Beijing membangun kemandirian teknologi nasional. Sebelum pembatasan ekspor chip diberlakukan, Nvidia menguasai sekitar 95 persen pasar chip canggih di China. Kini pangsa pasar itu hampir hilang, sementara China mempercepat investasi besar-besaran dalam industri semikonduktor domestik.
Hal serupa terjadi dalam sektor mineral kritis. China kini mendominasi rantai pasok rare earth, grafit, mangan, dan berbagai mineral penting bagi AI, kendaraan listrik, dan industri militer modern. Ketika Beijing membatasi ekspor rare earth sebagai respons terhadap tekanan AS, dampaknya langsung terasa bagi perusahaan teknologi dan kompleks industri militer Amerika.
Semua ini menunjukkan bahwa interdependensi global dapat menjadi sumber kekuatan sekaligus kelemahan. Selama beberapa dekade, globalisasi justru membuat ekonomi Amerika semakin bergantung pada manufaktur dan rantai pasok China. Ketika Washington mencoba menggunakan perdagangan dan teknologi sebagai senjata geopolitik, China merespons dengan membangun substitusi domestik, diversifikasi perdagangan, dan sistem ekonomi yang lebih mandiri.
Sementara itu, perang dagang juga memukul ekonomi domestik Amerika sendiri. Tarif impor pada akhirnya menjadi pajak konsumsi yang membebani kelas pekerja. Harga barang meningkat, inflasi naik, dan daya beli masyarakat menurun. Dalam ekonomi Amerika yang sudah mengalami ketimpangan ekstrem sejak dekade 1970-an, situasi ini memperparah kesenjangan sosial.
Pada akhirnya, Pax Silica mencerminkan realitas baru geopolitik abad ke-21: perebutan kekuasaan global kini tidak lagi hanya soal militer atau minyak, tetapi juga tentang chip, AI, data, mineral kritis, dan kontrol atas rantai pasok teknologi dunia.
Namun ironi terbesar dari strategi ini adalah bahwa upaya Amerika membendung China justru ikut mempercepat transformasi China menjadi kekuatan teknologi yang lebih mandiri. Dunia kini bergerak menuju struktur yang semakin multipolar, di mana dominasi tunggal semakin sulit dipertahankan, bahkan oleh kekuatan sebesar Amerika Serikat sekalipun.
Moch.Yunus, Dosen Ilmu Hubungan Internasional-Universitas Airlangga
