Logo Tatakelola strategi

Barbarian Baru di Era Globalisasi

Barbarian Baru di Era Globalisasi

Globalisasi sering dipahami sebagai simbol kemenangan peradaban modern. Perkembangan teknologi informasi, internet, transportasi global, dan integrasi ekonomi internasional telah membuat dunia menjadi semakin terhubung. Manusia dapat berkomunikasi lintas negara dalam hitungan detik, mengakses ilmu pengetahuan secara terbuka, dan membangun kerja sama internasional dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam banyak aspek, globalisasi berhasil mempercepat kemajuan peradaban melalui inovasi teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan modernisasi sosial.

Namun di balik kemajuan tersebut, globalisasi juga melahirkan paradoks baru. Dunia yang semakin terkoneksi ternyata tidak otomatis menjadi lebih damai. Sebaliknya, globalisasi justru memperlihatkan munculnya bentuk-bentuk kekerasan baru yang lebih cair, fleksibel, dan transnasional. Fenomena ini dapat dipahami sebagai munculnya “barbarian baru”, yaitu bentuk kekerasan modern yang tidak lagi didominasi oleh perang tradisional antarnegara, tetapi berkembang melalui jaringan global, media digital, dan aktor non-negara seperti kelompok teroris transnasional.

Dalam konteks ini, tulisan Walter Enders dan Todd Sandler (2012) mengenai transnational terrorism menjadi sangat relevan. Mereka menjelaskan bahwa terorisme modern telah berkembang dari fenomena domestik menjadi ancaman lintas negara yang memanfaatkan globalisasi dan teknologi modern. Jika dahulu konflik internasional didominasi oleh negara sebagai aktor utama, maka saat ini kelompok non-negara mampu memiliki pengaruh besar terhadap keamanan internasional melalui jaringan global yang sulit dikendalikan.

Enders dan Sandler membedakan antara domestic terrorism dan transnational terrorism. Terorisme domestik terjadi ketika pelaku, target, dan dampaknya berada dalam satu negara. Sebaliknya, terorisme transnasional melibatkan lebih dari satu negara, baik dari sisi pelaku, korban, target, pendanaan, maupun lokasi operasi. Kelompok seperti Al-Qaeda dan ISIS menjadi contoh nyata bagaimana organisasi non-negara dapat membangun jaringan internasional yang memanfaatkan mobilitas manusia, komunikasi global, dan teknologi digital untuk memperluas pengaruhnya.

Globalisasi pada dasarnya menyediakan infrastruktur yang memungkinkan transformasi tersebut terjadi. Kemajuan transportasi internasional, sistem komunikasi digital, internet, dan sistem keuangan global menciptakan dunia yang semakin terbuka. Namun keterbukaan tersebut juga dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk merekrut anggota lintas negara, memindahkan dana internasional, menyebarkan propaganda, dan mengorganisasi aksi kekerasan secara global. Dengan kata lain, teknologi yang awalnya dibangun untuk memperkuat integrasi dunia justru dapat digunakan sebagai alat destruktif oleh aktor non-negara.

Manuel Castells (2004) menjelaskan bahwa dunia modern berkembang menjadi network society, yaitu masyarakat yang terhubung melalui jaringan informasi global. Dalam masyarakat jaringan tersebut, kekuasaan tidak lagi dimonopoli oleh negara, tetapi tersebar kepada berbagai aktor yang mampu menguasai arus informasi dan komunikasi. Hal ini menjelaskan mengapa kelompok teroris modern tidak selalu membutuhkan kekuatan militer besar untuk menciptakan dampak global. Melalui internet dan media sosial, kelompok kecil sekalipun dapat menyebarkan ketakutan dan memengaruhi opini publik internasional.

Media global bahkan menjadi salah satu instrumen paling penting dalam kekerasan modern. Enders dan Sandler menekankan bahwa terorisme modern tidak hanya bertujuan menghancurkan target fisik, tetapi juga menciptakan efek psikologis yang luas. Dalam era informasi global, satu serangan kecil dapat disaksikan jutaan orang secara langsung melalui televisi dan media sosial. Ketakutan kemudian menyebar jauh melampaui lokasi serangan. Dampak psikologis inilah yang sering kali menjadi tujuan utama kelompok teroris.

Fenomena tersebut diperkuat oleh perkembangan media sosial yang memungkinkan penyebaran propaganda ekstrem secara cepat dan masif. Cass Sunstein (2018) menjelaskan bahwa algoritma media sosial dapat menciptakan echo chamber, yaitu ruang digital yang memperkuat pandangan kelompok tertentu tanpa adanya dialog kritis. Dalam situasi seperti ini, individu lebih mudah terpapar narasi kebencian, intoleransi, dan radikalisme secara berulang. Proses radikalisasi tidak lagi membutuhkan kontak fisik langsung karena dapat berlangsung melalui video, forum daring, dan propaganda digital.

Selain faktor teknologi, globalisasi juga menciptakan ketimpangan ekonomi dan frustrasi sosial yang menjadi lahan subur bagi berkembangnya ekstremisme. Joseph Stiglitz (2002) menjelaskan bahwa globalisasi sering kali lebih menguntungkan negara maju dan kelompok ekonomi kuat, sementara sebagian masyarakat mengalami marginalisasi dan ketidakpastian ekonomi. Ketimpangan tersebut menciptakan rasa ketidakadilan yang kemudian dimanfaatkan kelompok radikal untuk membangun narasi perlawanan terhadap sistem global.

Dalam kondisi masyarakat yang mengalami alienasi sosial dan krisis identitas, radikalisme sering muncul sebagai bentuk pencarian solidaritas dan makna hidup. Samuel Huntington (1996) bahkan menyatakan bahwa konflik modern semakin dipengaruhi oleh benturan identitas budaya dan peradaban. Arus budaya global yang dominan dapat menimbulkan ketakutan terhadap hilangnya identitas lokal sehingga sebagian kelompok merespons melalui fundamentalisme dan nasionalisme ekstrem.

Meski demikian, globalisasi tidak dapat dipahami semata-mata sebagai sumber kekerasan. Globalisasi tetap memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan peradaban manusia melalui perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan digital, kerja sama internasional, dan pertumbuhan ekonomi global. Karena itu, tantangan utama dunia modern bukan menghentikan globalisasi, melainkan mengelolanya secara lebih adil dan manusiawi. Jika globalisasi hanya menghasilkan ketimpangan dan keterasingan sosial, maka fenomena “barbarian baru” akan terus berkembang. Namun jika globalisasi diiringi pemerataan kesejahteraan, pendidikan kritis, dan penguatan nilai kemanusiaan, maka globalisasi justru dapat menjadi fondasi bagi dunia yang lebih damai dan berkeadilan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *