Globalisasi sering kali dipahami secara sederhana sebagai proses yang membuat dunia semakin terhubung. Lagu yang kita dengarkan dapat berasal dari musisi Korea, film yang kita tonton diproduksi di Amerika Serikat, telepon pintar yang kita gunakan dirancang di satu negara, komponennya dibuat di negara lain, dirakit di Asia, dan akhirnya digunakan oleh masyarakat di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, globalisasi seolah hadir tanpa kita sadari. Kita hidup di dalam jaringan hubungan yang melampaui batas-batas geografis, politik, dan budaya.
Namun, globalisasi tidak cukup dipahami hanya sebagai “dunia yang semakin terhubung”. Globalisasi adalah proses meningkatnya keterhubungan dan saling ketergantungan masyarakat dunia melalui arus manusia, barang, modal, informasi, teknologi, gagasan, dan budaya yang melintasi batas-batas geografis dan politik. Karena itu, memahami globalisasi berarti memahami bagaimana arus tersebut terbentuk, siapa yang mengendalikannya, siapa yang mendapatkan manfaat, dan siapa yang menanggung konsekuensinya.
George Ritzer melihat globalisasi sebagai penyebaran praktik, kesadaran, dan organisasi sosial ke seluruh dunia. Perspektif ini membantu menjelaskan bahwa globalisasi tidak hanya berlangsung melalui perdagangan atau perusahaan multinasional, tetapi juga melalui penyebaran cara hidup, kebiasaan, pengetahuan, dan budaya. David Held dan Anthony McGrew bahkan melihat globalisasi sebagai proses sosial multidimensional yang menciptakan hubungan antara konteks lokal dan konteks yang jauh. Dengan demikian, sesuatu yang terjadi di satu tempat semakin mudah memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat di tempat lain.
Akan tetapi, keterhubungan tidak selalu berarti kesetaraan. Di sinilah globalisasi menjadi persoalan yang lebih kompleks. Para pemikir kritis mengingatkan bahwa keterhubungan global dapat menghasilkan konsentrasi kekuasaan. Justin Rosenberg, misalnya, mempertanyakan perubahan hubungan antara negara dan tata kelola global, sementara perspektif realis melihat dunia internasional sebagai arena persaingan negara-negara yang mengejar kepentingannya masing-masing. Globalisasi dengan demikian memiliki dua wajah: ia dapat membuka kesempatan untuk bekerja sama, tetapi pada saat yang sama dapat menciptakan ketergantungan, dominasi, dan ketimpangan.
Salah satu kekuatan utama globalisasi terletak pada modal manusia (human capital). Manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan pengetahuan, teknologi, inovasi, dan solusi. Seorang manusia yang bekerja sendiri mungkin mampu menghasilkan sesuatu yang terbatas. Namun, ketika kemampuan banyak manusia dari berbagai tempat digabungkan, hasilnya dapat menjadi jauh lebih besar. Sejarah peradaban memberikan banyak contoh mengenai hal ini.
Perjalanan mesiu dari Cina melalui Jalur Sutra merupakan ilustrasi yang menarik. Cina menemukan mesiu dan menggunakannya untuk kembang api. Pengetahuan tersebut kemudian bergerak melalui jaringan perdagangan dan kontak antarmasyarakat. Di dunia Islam, teknologi tersebut dikembangkan untuk kepentingan militer, sebelum kemudian diadopsi dan dikembangkan lebih lanjut oleh bangsa-bangsa Eropa. Dalam proses tersebut, pengetahuan tidak berhenti pada tempat asalnya. Ia bergerak, mengalami perubahan, dan menghasilkan bentuk baru. Globalisasi, dengan demikian, juga merupakan sejarah tentang perjalanan dan akumulasi pengetahuan manusia.
Namun, modal manusia saja tidak cukup. Agar pengetahuan, kemampuan, dan inovasi dapat bertemu, dibutuhkan apa yang dapat disebut sebagai semangat kosmopolitan (cosmopolitan spirit): kesediaan untuk berinteraksi dengan, terbuka terhadap, dan belajar dari orang-orang yang berbeda dari diri kita sendiri. Tanpa keterbukaan tersebut, keterhubungan justru dapat berubah menjadi konflik dan eksklusivitas.
Semangat kosmopolitan memungkinkan manusia menggabungkan modal mereka dalam skala yang lebih besar. Perdagangan global memungkinkan kita menikmati produk dari berbagai belahan dunia. Teknologi komunikasi memungkinkan seseorang di Jakarta berkomunikasi secara langsung dengan seseorang di London. Agama, ide, musik, makanan, teknologi, dan gaya hidup bergerak melintasi batas negara dan kemudian berinteraksi dengan konteks lokal. Karena itu, globalisasi tidak selalu menghasilkan keseragaman. Sering kali yang terjadi justru adalah pertemuan antara global dan lokal, atau yang dikenal sebagai glokalisasi (glocalization).
Pertanyaannya kemudian adalah: apakah dunia yang semakin terhubung otomatis menjadi dunia yang lebih baik? Jawabannya tentu tidak sederhana. Globalisasi telah membawa peluang besar, tetapi juga menghadirkan tantangan seperti ketimpangan, perubahan iklim, pandemi, eksploitasi sumber daya, dan ketidaksetaraan kekuasaan. Karena itu, tidak seharusnya menerima globalisasi secara naif, tetapi juga tidak seharusnya menolaknya dengan membangun “tembok” di sekeliling negara. Sejarah menunjukkan bahwa tembok pada akhirnya dapat runtuh, sementara jembatan memungkinkan manusia bertemu dan bekerja sama.
Pandemi COVID-19 memberikan contoh penting. Pengembangan vaksin merupakan hasil dari kombinasi pengetahuan, modal, teknologi, institusi, dan tenaga manusia dari berbagai negara. Masalah global membutuhkan kemampuan global untuk mengatasinya. Perubahan iklim, pandemi, kelaparan, dan berbagai persoalan lintas batas lainnya tidak dapat diselesaikan oleh satu negara sendirian.
Karena itu, pertanyaan terpenting tentang globalisasi bukan lagi sekadar “Apakah globalisasi baik atau buruk?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: globalisasi seperti apa yang ingin kita bangun? Siapa yang memperoleh manfaat? Siapa yang tertinggal? Dan bagaimana kekuasaan serta manfaat globalisasi dapat didistribusikan secara lebih adil?
Globalisasi pada akhirnya adalah pilihan manusia tentang bagaimana kita mengelola keterhubungan yang semakin tidak dapat dihindari. Jika modal manusia dipadukan dengan semangat kosmopolitan, keterbukaan, dan keadilan, keterhubungan global dapat menjadi kekuatan untuk menyelesaikan persoalan bersama. Dunia yang semakin terhubung memang tidak otomatis menjadi dunia yang lebih baik. Tetapi dunia yang terhubung memberi kita kesempatan yang jauh lebih besar untuk membuatnya menjadi lebih baik.
