Strategi sering dipahami secara sederhana sebagai cara untuk mencapai tujuan. Namun, pemahaman tersebut menjadi jauh lebih menarik ketika kita melihat bagaimana makna strategi berubah sepanjang sejarah. Strategi yang digunakan Sun Tzu tentu tidak lahir dari persoalan yang sama dengan strategi Clausewitz. Demikian pula, strategi pada masa Perang Dingin tidak dapat dipahami dengan cara yang sama seperti strategi dalam dunia bisnis saat ini. Menurut saya, perubahan tersebut menunjukkan bahwa strategi bukan konsep yang statis. Ia selalu berubah mengikuti konteks, aktor, teknologi, bentuk ancaman, dan jenis masalah yang harus dihadapi.
Pada tahap awal, persoalan strategi terutama berkaitan dengan bagaimana menghadapi lawan, terutama ketika kekuatan yang dimiliki tidak cukup untuk memenangkan pertarungan secara langsung. Dalam pembahasan Freedman tentang Yunani, Sun Tzu, dan Machiavelli, terlihat bahwa strategi tidak identik dengan kekuatan. Tradisi Yunani membedakan biē, yaitu kekuatan, dengan mētis, yaitu kecerdikan. Achilles dapat menjadi simbol kekuatan langsung, sementara Odysseus menunjukkan kemampuan membaca situasi, memahami lawan, menggunakan deception, dan memilih jalan tidak langsung.
Sun Tzu kemudian memperkuat gagasan tersebut melalui prinsip “to subdue the enemy without fighting.” Artinya, kemenangan strategis tidak selalu harus dicapai dengan menghancurkan lawan. Justru strategi yang lebih baik dapat berupa kemampuan menciptakan kondisi sehingga lawan tidak dapat menggunakan kekuatannya secara efektif. Informasi, deception, fleksibilitas, dan kemampuan menyerang kelemahan menjadi sumber keunggulan.
Tetapi terdapat persoalan menarik: lawan juga berpikir. Jika kita menggunakan deception, lawan dapat belajar menggunakan deception. Jika kita menggunakan strategi tidak langsung, lawan dapat mengantisipasinya. Di sinilah strategi mulai menunjukkan sifat interaktifnya. Keunggulan tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita miliki, tetapi juga oleh bagaimana pihak lain memahami dan merespons tindakan kita.
Machiavelli kemudian membawa persoalan strategi dari medan perang ke politik. Konteks politik Italia yang penuh konflik dan ancaman membuat persoalan utama bukan hanya bagaimana mengalahkan musuh, tetapi bagaimana mempertahankan kekuasaan dan keberlangsungan negara. Karena itu, politik harus dilihat secara realistis, melalui konflik kepentingan, risiko, kekuatan, dan kondisi yang nyata.
Konsep fortuna menjadi penting dalam pemikiran tersebut. Tidak semua keadaan dapat dikendalikan manusia. Karena itu, strategi bukan berarti menghilangkan risiko, melainkan memilih tindakan yang paling memungkinkan untuk mempertahankan tujuan ketika berbagai pilihan sama-sama mengandung risiko. Penguasa harus mengetahui kapan menggunakan kekuatan dan kapan menggunakan kecerdikan. Dengan demikian, pada tahap ini strategi mulai bergeser dari “bagaimana mengalahkan lawan?” menjadi “bagaimana tetap mampu mencapai tujuan dalam keadaan yang berubah?”
Clausewitz kemudian memperdalam persoalan tersebut. Perang tidak dapat dipahami sebagai tindakan satu pihak yang sepenuhnya dapat mengendalikan situasi. Perang adalah pertemuan dua kehendak yang saling berlawanan. Setiap tindakan kita akan menghasilkan respons lawan. Karena itu, rencana yang paling rasional sekalipun tidak pernah sepenuhnya bebas dari gangguan.
Konsep friction menjadi penting di sini. Kesalahan manusia, keterlambatan, informasi yang tidak lengkap, kondisi geografis, logistik, moral, peluang, dan berbagai kejadian kecil dapat mengubah hasil. Clausewitz menunjukkan bahwa persoalan strategi bukan sekadar membuat rencana yang benar, tetapi menjalankan rencana tersebut ketika realitas terus memberikan perlawanan. Bahkan kemenangan militer tidak otomatis menghasilkan keberhasilan politik. Pengalaman Napoleon menunjukkan bahwa lawan yang dikalahkan dapat kembali, beradaptasi, membangun perlawanan, atau membentuk koalisi baru.
Dengan Clausewitz, makna strategi semakin bergeser dari kontrol menuju pengelolaan ketidakpastian.
Perubahan paling besar terjadi setelah Perang Dunia II ketika muncul senjata nuklir. Inilah konteks yang menjelaskan berkembangnya Strategic Studies sebagaimana dibahas Buzan dan Hansen. Senjata nuklir menciptakan persoalan baru karena perang nuklir belum pernah terjadi. Tidak ada pengalaman empiris yang dapat dijadikan rujukan langsung. Akibatnya, para strategis harus menggunakan teori, model, kalkulasi, dan prediksi mengenai kemungkinan perilaku lawan.
Dalam konteks Perang Dingin, pertanyaan strategis pun berubah. Strategi tidak lagi terutama bertanya “bagaimana memenangkan perang?”, tetapi “bagaimana mencegah perang?” Jika perang nuklir dapat menghasilkan kehancuran yang sangat besar, kemenangan melalui perang menjadi semakin tidak rasional. Strategi justru bekerja melalui ancaman: saya tidak menyerang karena saya percaya Anda memiliki kemampuan untuk membalas dengan biaya yang sangat besar.
Di sinilah deterrence menjadi pusat strategi. Hubungan Amerika Serikat dan Uni Soviet menunjukkan bahwa dua negara dapat saling memengaruhi tanpa harus berperang secara langsung. Struktur bipolar membuat pengelolaan ancaman, keseimbangan kekuatan, aliansi, arms racing, containment, dan extended deterrence menjadi bagian penting dari strategi. Jika dikembangkan secara analitis, logika tersebut dapat dikaitkan dengan balance of threat: yang diperhitungkan bukan hanya siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang dianggap paling mengancam, bagaimana ancaman tersebut dipersepsikan, dan bagaimana ancaman itu harus diseimbangkan.
Ketika Perang Dingin berakhir, konteks strategis kembali berubah. Ancaman tidak lagi dapat dipahami hanya melalui hubungan dua superpower. Perubahan teknologi, konflik nonkonvensional, krisis energi, dan berakhirnya bipolaritas memperluas persoalan yang harus dipikirkan oleh studi strategi. Artinya, sekali lagi, perubahan konteks menghasilkan perubahan makna strategi.
Perluasan berikutnya terjadi ketika konsep strategi masuk ke dunia organisasi dan bisnis. Strategi tidak lagi hanya berkaitan dengan negara dan perang, tetapi juga dengan tujuan organisasi, struktur, sumber daya, pasar, kompetitor, dan kapabilitas. Konsep militer seperti offensive, defensive, flanking, dan guerrilla strategy kemudian digunakan untuk memahami persaingan bisnis.
Namun, Freedman memberikan batas penting: bisnis bukan perang secara harfiah. Metafora perang dapat membantu menjelaskan kompetisi, tetapi tidak boleh diterapkan secara mekanis. Dalam bisnis terdapat negosiasi, kerja sama, hubungan jangka panjang, dan kepentingan internal organisasi. Karena itu, strategi bisnis semakin menunjukkan bahwa strategi bukan hanya tentang menyerang kompetitor, tetapi juga tentang mengatur sumber daya, membangun struktur, belajar, dan beradaptasi dengan lingkungan.
Inti evolusi tersebut bukanlah bahwa konsep lama menjadi tidak relevan. Deception Sun Tzu tetap penting. Friction Clausewitz tetap menjelaskan mengapa rencana dapat gagal. Deterrence tetap relevan ketika aktor berusaha memengaruhi perilaku pihak lain. Yang berubah adalah konteks dan kompleksitas persoalan yang harus dikelola.
Karena itu, strategi modern sebaiknya tidak dipahami sebagai kemampuan untuk mengontrol keadaan secara sempurna. Strategi lebih tepat dipahami sebagai kemampuan menghubungkan tujuan, sumber daya, informasi, kekuatan, ancaman, tindakan, respons pihak lain, dan perubahan lingkungan.
Jika Sun Tzu bertanya bagaimana menghadapi lawan yang lebih kuat, Clausewitz bertanya bagaimana mencapai tujuan politik ketika lawan melawan dan perang penuh friction, sedangkan Strategic Studies bertanya bagaimana mencegah perang melalui deterrence, maka strategi bisnis bertanya bagaimana organisasi dapat bertahan dan berkembang di tengah kompetisi dan perubahan.
Dengan demikian, evolusi strategi pada akhirnya adalah pergeseran dari kontrol menuju adaptasi. Strategi bukan kemampuan mengetahui masa depan secara pasti, melainkan kemampuan tetap memiliki arah ketika masa depan tidak pasti. Tujuan dapat tetap sama, tetapi cara mencapainya harus dapat berubah. Justru kemampuan untuk mengubah cara tanpa kehilangan tujuan itulah yang membuat strategi tetap relevan dari masa Sun Tzu hingga dunia yang semakin kompleks saat ini.
