Perdebatan antara Keynesianisme dan monetarisme Milton Friedman sebenarnya bukan sekadar perdebatan akademik lama dalam ilmu ekonomi. Di tengah inflasi global, ketidakpastian geopolitik, dan ancaman perlambatan ekonomi dunia saat ini, perdebatan tersebut kembali menjadi sangat relevan. Pertanyaan dasarnya sederhana tetapi penting: siapa yang seharusnya lebih berperan menjaga stabilitas ekonomi, negara ataukah pasar?
John Maynard Keynes dan Milton Friedman menawarkan jawaban yang sangat berbeda terhadap pertanyaan tersebut. Keynes percaya bahwa pasar tidak selalu mampu memperbaiki dirinya sendiri ketika krisis terjadi. Sebaliknya, Friedman meyakini bahwa terlalu banyak intervensi negara justru menciptakan distorsi, inflasi, dan ketidakstabilan baru.
Jika melihat situasi ekonomi global hari ini, sebenarnya kedua pemikiran tersebut sama-sama menunjukkan relevansinya.
Keynes lahir dari pengalaman Depresi Besar 1930-an ketika jutaan orang kehilangan pekerjaan dan ekonomi dunia lumpuh. Pada masa itu, teori liberal klasik yang percaya bahwa pasar akan pulih secara otomatis ternyata gagal menjelaskan kenyataan. Ketika masyarakat takut membelanjakan uangnya dan perusahaan enggan berinvestasi, ekonomi justru masuk ke lingkaran penurunan yang semakin dalam.
Dari pengalaman itulah Keynes menyimpulkan bahwa negara harus hadir secara aktif melalui kebijakan fiskal. Pemerintah perlu membelanjakan uang, membangun infrastruktur, memberikan subsidi, dan menciptakan pekerjaan agar permintaan agregat tetap hidup. Logikanya sederhana: jika masyarakat dan swasta berhenti bergerak, negara harus menjadi motor sementara bagi ekonomi.
Pandangan Keynes terasa sangat relevan ketika dunia menghadapi pandemi COVID-19. Hampir semua negara, termasuk negara yang sebelumnya sangat liberal, akhirnya melakukan stimulus fiskal besar-besaran. Pemerintah memberikan bantuan sosial, subsidi energi, insentif usaha, hingga pencetakan uang dalam skala besar untuk mencegah ekonomi runtuh. Tanpa intervensi tersebut, dampak sosial dan ekonomi kemungkinan akan jauh lebih parah.
Namun di sinilah kritik Milton Friedman mulai menemukan momentumnya.
Bagi Friedman, persoalan terbesar dalam ekonomi bukan hanya lemahnya permintaan, tetapi kesalahan pengelolaan uang beredar. Ia terkenal dengan pernyataannya bahwa inflasi selalu merupakan fenomena moneter. Ketika jumlah uang beredar tumbuh terlalu cepat dibanding kapasitas produksi ekonomi, maka harga-harga akan naik. Dari sudut pandang monetaris, inflasi tinggi pasca-pandemi menjadi bukti bahwa stimulus fiskal dan ekspansi likuiditas yang terlalu besar memang memiliki konsekuensi serius.
Pandangan Friedman menjadi semakin relevan ketika banyak negara kini menghadapi tekanan inflasi, pelemahan mata uang, dan utang publik yang membengkak. Kebijakan subsidi besar-besaran dan defisit anggaran memang mampu menjaga daya beli masyarakat dalam jangka pendek, tetapi jika dilakukan terus menerus tanpa kontrol yang jelas, stabilitas ekonomi justru dapat terganggu.
Di negara berkembang, dilema ini terasa lebih berat. Pemerintah dituntut menjaga konsumsi masyarakat melalui bantuan sosial dan subsidi agar ekonomi tidak jatuh. Tetapi pada saat yang sama, pelebaran defisit fiskal meningkatkan kebutuhan utang dan memperbesar ketergantungan terhadap pasar keuangan global. Ketika suku bunga global naik atau arus modal asing keluar, tekanan terhadap mata uang dan stabilitas ekonomi langsung terasa.
Namun persoalannya, pendekatan monetaris juga bukan tanpa masalah. Friedman terlalu percaya bahwa pasar akan bekerja secara efisien jika negara tidak terlalu banyak campur tangan. Kenyataannya, ekonomi modern menunjukkan bahwa pasar sering kali menciptakan ketimpangan yang sangat besar. Liberalisasi pasar keuangan memang menghasilkan pertumbuhan investasi dan keuntungan sektor finansial, tetapi manfaatnya tidak selalu dirasakan secara merata.
Dalam beberapa dekade terakhir, banyak keuntungan ekonomi justru terkonsentrasi pada kelompok pemilik modal dan aset keuangan. Sementara itu, kelas pekerja menghadapi stagnasi upah, kenaikan biaya hidup, dan ketidakpastian pekerjaan. Fenomena ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menciptakan kesejahteraan sosial.
Karena itu, perdebatan antara Keynes dan Friedman sebenarnya tidak bisa disederhanakan menjadi pilihan hitam putih antara negara atau pasar. Pengalaman krisis global menunjukkan bahwa pasar memang penting untuk efisiensi dan inovasi, tetapi negara tetap dibutuhkan untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi. Sebaliknya, intervensi negara juga perlu dibatasi agar tidak menciptakan inflasi, ketergantungan fiskal, dan distorsi ekonomi jangka panjang.
Pada akhirnya, baik Keynes maupun Friedman sebenarnya sama-sama mengingatkan satu hal penting: stabilitas ekonomi tidak pernah terjadi secara otomatis. Ia selalu membutuhkan pengelolaan yang hati-hati, keseimbangan kebijakan, dan kemampuan membaca perubahan zaman.
