Logo Tatakelola strategi

Berfilsafat atau Sekadar Berpikir?

Berfilsafat atau Sekadar Berpikir?

Hampir setiap manusia pernah mengalami momen ketika kehidupan tiba-tiba terasa penuh tanda tanya. Di tengah malam, ketika suasana sunyi, seseorang mungkin bertanya: mengapa saya ada? Mengapa dunia ada? Apa tujuan kehidupan? Apakah Tuhan benar-benar ada? Pertanyaan semacam itu sering dianggap sebagai awal dari filsafat. Namun, menurut saya, memiliki pertanyaan filosofis belum tentu membuat seseorang berfilsafat. Perbedaan yang lebih penting terletak pada apa yang dilakukan seseorang setelah pertanyaan itu muncul.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang berpikir. Kita berpikir ketika bekerja, mengambil keputusan, merencanakan masa depan, menyelesaikan masalah, bahkan ketika mempertahankan pendapat dalam perdebatan. Akan tetapi, berpikir tidak otomatis sama dengan berfilsafat. Berfilsafat menuntut sesuatu yang lebih: kemauan untuk memeriksa alasan, mempertanyakan asumsi, menguji keyakinan, dan membuka kemungkinan bahwa apa yang selama ini kita anggap benar ternyata keliru.

Di sinilah saya melihat perbedaan paling mendasar antara orang yang berfilsafat dan orang yang tidak berfilsafat. Orang yang tidak berfilsafat cenderung berhenti pada pertanyaan, jawaban, atau keyakinan yang telah tersedia. Ia mungkin berkata, “Saya percaya demikian karena sejak kecil saya diajarkan begitu,” atau “Semua orang juga berpikir seperti itu.” Sebaliknya, orang yang berfilsafat tidak puas dengan jawaban tersebut. Ia akan bertanya: Mengapa saya percaya? Apa alasan yang mendukungnya? Apakah alasan tersebut dapat dipertanggungjawabkan?

Dengan demikian, filsafat bukan terutama persoalan memiliki pendapat yang berbeda dari orang lain. Orang yang gemar membantah belum tentu filosofis. Bahkan seseorang yang selalu mengambil posisi berlawanan dengan pendapat umum belum tentu sedang berfilsafat. Filsafat justru menuntut argumentasi. Yang penting bukan apakah kesimpulannya populer atau kontroversial, melainkan apakah kesimpulan itu memiliki alasan yang masuk akal dan konsisten.

Misalnya, seseorang mengatakan, “Manusia pada dasarnya egois.” Pernyataan tersebut merupakan pendapat biasa. Tetapi ketika seseorang mulai bertanya, “Apa yang dimaksud dengan egois?”, “Apa dasar kita mengatakan manusia secara alamiah egois?”, “Apakah tindakan menolong orang lain tanpa pamrih membantah pernyataan tersebut?”, dan “Jika manusia memang egois, apakah egoisme selalu buruk?”, maka proses berpikirnya mulai menjadi filosofis. Ia tidak lagi sekadar menerima sebuah pernyataan, tetapi membongkar konsep dan asumsi yang ada di baliknya.

Karena itu, ciri pertama orang yang berfilsafat adalah sikap tidak mudah menerima sesuatu sebagai sesuatu yang sudah selesai. Ia memiliki wonder, rasa takjub dan keheranan terhadap sesuatu yang dianggap biasa. Aristoteles menghubungkan awal filsafat dengan rasa takjub manusia terhadap dunia. Namun, rasa takjub saja belum cukup. Rasa takjub harus berkembang menjadi pertanyaan yang lebih mendalam dan sistematis.

Ciri kedua adalah refleksivitas. Orang yang berfilsafat tidak hanya memikirkan objek di luar dirinya, tetapi juga memeriksa cara berpikirnya sendiri. Ia bertanya bukan hanya “Apa yang benar?”, tetapi juga “Mengapa saya menganggap sesuatu benar?” Inilah yang membuat filsafat berbeda dari sekadar mengumpulkan informasi. Filsafat mengajak manusia menjadikan pikirannya sendiri sebagai objek pemeriksaan.

Ciri ketiga adalah kesediaan untuk dikoreksi. Menurut saya, ini justru merupakan ujian paling sulit dalam berfilsafat. Banyak orang mampu mempertanyakan pendapat orang lain, tetapi tidak banyak yang bersedia mempertanyakan pendapatnya sendiri. Dalam perdebatan, misalnya, seseorang sering kali lebih sibuk mencari kelemahan argumen lawan daripada memeriksa apakah argumennya sendiri benar. Padahal, semangat filosofis menuntut keberanian untuk mengatakan, “Mungkin saya salah.”

Sikap tersebut dapat ditemukan dalam tradisi Socrates. Ia menjadikan pemeriksaan terhadap kehidupan sebagai bagian penting dari kehidupan manusia. Gagasan bahwa “the unexamined life is not worth living” menunjukkan bahwa kehidupan yang baik bukan sekadar kehidupan yang dijalani, tetapi kehidupan yang terus diperiksa dan direfleksikan.

Dengan demikian, menurut saya, orang yang tidak berfilsafat bukan berarti orang yang bodoh, tidak berpikir, atau tidak memiliki pertanyaan mendalam. Sebaliknya, setiap manusia memiliki potensi untuk berfilsafat. Yang membedakan adalah apakah seseorang bersedia bergerak dari “saya percaya” menuju “mengapa saya percaya”; dari “kata orang” menuju “apa alasannya”; dan dari “saya yakin” menuju “apakah keyakinan saya dapat dipertanggungjawabkan?”

Pada akhirnya, berfilsafat bukan tentang menjadi orang yang memiliki jawaban atas segala sesuatu. Justru sebaliknya, filsafat mengajarkan kerendahan hati intelektual. Seseorang yang berfilsafat mungkin berakhir dengan jawaban “saya tidak tahu”, tetapi ia mengetahui mengapa ia belum tahu dan pertanyaan apa yang masih harus diperiksa. Karena itu, perbedaan antara orang yang berfilsafat dan yang tidak berfilsafat bukan terletak pada banyaknya pengetahuan yang dimiliki, melainkan pada kualitas hubungan seseorang dengan pengetahuan dan keyakinannya sendiri.

Berfilsafat, pada akhirnya, adalah keberanian untuk berhenti sejenak, mempertanyakan yang dianggap biasa, memeriksa yang dianggap benar, dan bersedia mengubah pikiran ketika alasan menuntutnya. Dalam arti itu, filsafat bukan sekadar aktivitas akademik. Ia adalah latihan untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran yang lebih kritis.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *