Logo Tatakelola strategi

Dari Mitos ke Logos: Ketika Manusia Mulai Mempertanyakan Cara Mereka Menjelaskan Dunia

Dari Mitos ke Logos: Ketika Manusia Mulai Mempertanyakan Cara Mereka Menjelaskan Dunia

Sejarah filsafat dapat dipahami sebagai sejarah perubahan cara manusia menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang dunia. Sejak awal, manusia telah bertanya mengapa dunia ada, dari mana kehidupan berasal, mengapa terjadi gempa, petir, kematian, atau perubahan musim. Namun, pertanyaan-pertanyaan tersebut pada mulanya banyak dijawab melalui mitos. Dunia dijelaskan melalui kisah tentang dewa, kekuatan supernatural, dan makhluk-makhluk kosmis. Menurut saya, hal yang paling penting dari lahirnya filsafat bukanlah bahwa manusia tiba-tiba mulai berpikir, melainkan bahwa manusia mulai mengubah standar tentang bagaimana suatu penjelasan harus diterima sebagai masuk akal. Di sinilah pergeseran dari mythos menuju logos menjadi penting.

Mitos sebenarnya bukan sekadar cerita yang tidak masuk akal. Mitos memberikan masyarakat suatu kerangka untuk memahami asal-usul, keteraturan, dan makna dunia. Masalah mulai muncul ketika manusia berhadapan dengan berbagai tradisi yang menawarkan penjelasan berbeda mengenai realitas. Di kawasan Ionia, khususnya Miletus, situasi ini menjadi semakin menarik karena wilayah tersebut merupakan pusat perdagangan yang mempertemukan orang, barang, dan kebudayaan dari berbagai tempat. Orang Yunani dapat berhadapan dengan penjelasan Mesir, Persia, Fenisia, dan tradisi lainnya mengenai asal-usul alam semesta. Ketika masing-masing tradisi menawarkan kisah yang berbeda, muncul pertanyaan yang sangat filosofis: jika setiap kebudayaan memiliki cerita tentang kebenaran, bagaimana kita menentukan penjelasan mana yang dapat dipercaya?

Menurut saya, justru di sinilah benih logos mulai terlihat. Persoalannya bukan sekadar bahwa orang Yunani “menolak mitos”, tetapi bahwa mereka mulai mencari alasan yang dapat diperiksa dan diperdebatkan. Fenomena alam tidak lagi cukup dijelaskan dengan mengatakan bahwa petir merupakan kemarahan Zeus atau gempa merupakan kemurkaan dewa. Manusia mulai memperhatikan bahwa fenomena alam memiliki pola yang dapat diamati. Jika suatu peristiwa terjadi secara teratur, mungkin terdapat prinsip tertentu yang menjelaskannya. Dengan demikian, observasi dan penalaran mulai menjadi sumber legitimasi pengetahuan.

Thales merupakan salah satu tokoh penting dalam perubahan ini. Ia mengamati bahwa kehidupan sangat bergantung pada air dan kemudian mengajukan gagasan bahwa air merupakan prinsip dasar segala sesuatu. Yang penting dari Thales sebenarnya bukan apakah kesimpulannya benar menurut ilmu pengetahuan modern. Tentu saja, kita sekarang mengetahui bahwa alam semesta tidak tersusun hanya dari air. Nilai filosofis Thales terletak pada jenis pertanyaan dan alasan yang digunakannya. Ia mencari satu prinsip alamiah yang dapat menjelaskan keberagaman realitas, bukan sekadar menunjuk pada tindakan para dewa. Dengan Thales, alam mulai diperlakukan sebagai sesuatu yang dapat diselidiki oleh pikiran manusia.

Namun, logos justru berkembang karena filsafat tidak berhenti pada penghormatan terhadap pendahulunya. Anaximander, yang melanjutkan tradisi Thales, mempertanyakan apakah air benar-benar mampu menjelaskan seluruh keberagaman alam. Bagaimana sesuatu yang bersifat basah dapat menjadi sumber api yang panas dan kering? Bagaimana satu unsur tertentu dapat menjelaskan berbagai pertentangan yang terdapat dalam realitas? Ia kemudian mengusulkan apeiron, sesuatu yang tidak terbatas dan tidak terdefinisi, sebagai prinsip dasar segala sesuatu. Di sini terlihat bahwa logos bukan sekadar mengamati, tetapi juga mengevaluasi keterbatasan suatu penjelasan dan membangun konsep yang lebih abstrak.

Heraclitus membawa langkah tersebut lebih jauh. Jika Thales mencari prinsip dasar berupa air dan Anaximander mencari apeiron, Heraclitus melihat bahwa karakter paling mendasar dari realitas justru adalah perubahan. Dunia tidak pernah benar-benar diam. Siang menjadi malam, panas menjadi dingin, hidup berhadapan dengan mati. Api kemudian menjadi simbol yang tepat bagi realitas yang terus berubah. Namun perubahan itu bukan kekacauan tanpa aturan. Menurut Heraclitus, semuanya berlangsung dalam keteraturan yang disebut logos: suatu prinsip universal yang mengatur perubahan dan hubungan antara berbagai pertentangan.

Karena itu, pergeseran dari mythos ke logos sebaiknya tidak dipahami sebagai perpindahan sederhana dari “percaya” menjadi “berpikir”. Manusia selalu berpikir. Perubahan yang lebih mendasar adalah munculnya tuntutan bahwa sebuah penjelasan harus dapat dipahami, diperiksa, dipertanyakan, dan dipertanggungjawabkan melalui alasan. Bahkan ketika Thales keliru, ia tetap penting karena membuka kemungkinan bahwa alam dapat dijelaskan tanpa harus selalu bergantung pada cerita mitologis.

Inilah warisan terbesar filsafat Ionia. Mereka tidak memberikan seluruh jawaban tentang alam semesta. Justru mereka mengajarkan sesuatu yang lebih penting: jangan puas dengan jawaban hanya karena jawaban tersebut telah diwariskan. Tanyakan apa alasannya, amati kenyataan, uji konsistensinya, dan bersedia mengoreksinya. Dari kebiasaan intelektual inilah filsafat kemudian berkembang dan pada akhirnya ikut melahirkan tradisi ilmu pengetahuan modern.

Dengan demikian, logos bukan sekadar “akal” dalam arti kemampuan berpikir. Ia adalah sikap intelektual yang menuntut agar dunia dipahami melalui alasan, pengamatan, argumentasi, dan evaluasi kritis. Pergeseran dari mitos ke logos karena itu merupakan salah satu perubahan paling penting dalam sejarah pemikiran manusia: bukan karena manusia untuk pertama kalinya mulai bertanya, tetapi karena manusia mulai bertanya mengapa sebuah jawaban layak dipercaya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *