Logo Tatakelola strategi

Terorisme dan Globalisasi

Terorisme dan Globalisasi

Peledakan bom di pintu gerbang Kedubes Australia, Kamis (9/9), menambah catatan tentang jumlah kegiatan terorisme. Dengan kejadian itu dan menengok ke belakang atas kejadian-kejadian teror di Indonesia atau negara-negara lain, kuantitas dan kualitas aktivitas terorisme terasa meningkat akhir-akhir ini. Dari waktu ke waktu, kecenderungannya terus meningkat. Peningkatan tersebut seiring dengan proses globalisasi. Lalu, apa kaitan globalisasi dengan peningkatan kuantitas dan kualitas teror?

Tulisan ini menyimpulkan bahwa globalisasi meningkatkan kuantitas dan kualitas terorisme dalam dua cara. Pertama, globalisasi membentuk masyarakat yang mempunyai sifat-sifat yang sangat cocok untuk berhasilnya aksi-aksi teror. Artinya, ciri-ciri khas kehidupan yang didorong kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sangat membantu dan memudahkan cara kerja teroris.

Kedua, globalisasi juga menyuburkan ladang bagi calon-calon teroris. Sebab, globalisasi menciptakan kondisi-kondisi yang sesuai bagi tumbuhnya keinginan untuk melakukan terorisme. Globalisasi pada dasarnya meningkatkan dan meluaskan proses marjinalisasi kehidupan masyarakat di negara-negara berkembang, baik secara ekonomis, sosial, politik, maupun psikologis. Sebagaimana dipercayai selama ini, perasaan kemiskinan dan ketidakdilan mengakibatkan orang mudah untuk diajak melakukan tindakan-tindakan agresif.

***

Bagaimana globalisasi memudahkan cara kerja terorisme? Globalisasi adalah proses pengintegrasian kehidupan ekonomi, sosial, budaya, psikologi seluruh masyarakat di tiap sudut dunia ke arah penyatuan atau penyeragaman global. Globalisasi sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa abad lalu. Hanya, prosesnya lambat karena belum didukung teknologi komunikasi dan informasi. Globalisasi menjadi istilah sejak seperempat abad lalu justru karena prosesnya semakin cepat. Hal itu terjadi akibat adanya revolusi teknologi komunikasi dan informasi.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi memungkinkan masyarakat di seluruh dunia lebih mudah berinteraksi sehingga konsep global village yang dikemukakan Marshall McLuhan pada dasawarsa 1960-an menjadi kenyataan. Lalu lintas penyampaian pesan menjadi semakin cepat dan murah. Dengan demikian, lebih banyak orang yang bisa mengakses informasi.

Akibatnya, kejadian yang berlangsung di salah satu sudut dunia bisa diketahui dan ditonton langsung orang-orang dari sudut dunia lain dalam waktu bersamaan. Lalu lintas SMS begitu cepat, padat, dan bisa mencapai sesama pemilik handphone di seluruh dunia.

Tayangan-tayangan langsung (live) menjadi hal lumrah di era globalisasi ini. Yang ditransfer secara langsung tidak hanya gambar, tetapi juga suara, tulisan, dan suasana seputar kejadian tersebut.

Walau terbatas pada layar TV atau layar telepon seluler, transfer suasana kejadian bisa berlangsung sangat cepat dan luas. Kejadian yang kecil sekalipun mudah menjadi sesuatu yang besar karena kuatnya teknologi dan jaringan informasi itu. Singkatnya, kemajuan teknologi komunikasi dan informasi telah memperbesar “efek halo” dari kejadian sederhana.

Ciri khas kehidupan yang disebabkan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi tersebut tentu saja sangat membantu pekerjaan para teroris. Sebab, esensi aksi dan tindakan para teroris adalah bagaimana mentransformasikan aspek-aspek kehidupan sehingga tindakan mereka bisa berefek luas. Teror pada dasarnya adalah menebar ketakutan.

Tayangan langsung, lalu lintas informasi yang cepat dan murah, penggabungan gambar, gerak, suara, serta tulisan yang memudahkan masyarakat mengetahui dan menonton aksi teror itu melipatgandakan efek yang dikehendaki para teroris. Bila dulu aksi baru dipublikasikan secara masif melalui media massa cetak sehari sesudahnya, kini bisa dipublikasikan secara masif pada detik dan menit yang sama.

Berita tentang pengeboman pintu gerbang Kedubes Australia minggu lalu, misalnya, mencapai para pemegang telepon selular dengan SMS beberapa menit setelah ledakan terjadi. Lalu, para pemegang telepon selular itu menyetel TV atau radio untuk mengetahui lebih lanjut kejadian tersebut melalui siaran langsung sambil mengirim SMS ke teman-temannya. Demikian seterusnya sehingga dalam waktu tak kurang satu jam saja, sebagian besar penduduk mengetahui dan menonton kejadian itu. Apalagi, stasiun-stasiun TV berulang-ulang menayangkan rentetan kejadian tersebut.


***

Bagaimana globalisasi menyuburkan ladang bagi calon-calon pelaku teroris? Sebagaimana disinggung di atas, globalisasi sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu. Awalnya, globalisasi tumbuh sejak ada revolusi industri dan munculnya kapitalisme di Eropa Barat. Intinya, gerakan mengejar keuntungan dengan meluaskan pasar dan investasi untuk mengeksploitasi daerah-daerah di luar negeri. Teknologi komunikasi dan perkapalan membantu proses globalisasi awal itu, yang mengakibatkan sistem kolonialisme dan imperialisme terjadi di negara-negara berkembang. Intinya, ada proses marjinalisasi dan eksploitasi atas masyarakat di daerah-daerah jajahan.

Globalisasi yang berlangsung akhir-akhir ini –dibantu tekologi komunikasi dan informasi– yang pada dasarnya ialah proses pengintegrasian perekonomian dunia, secara hakiki masih tetap merupakan proses marjinalisasi dan eksploitasi masyarakat-masyarakat di negara-negara berkembang. Karena teknologi komunikasi dan informasi mempercepat proses globalisasi, marjinalisasi dan eksploitasi atas masyarakat di negara-negara berkembang pun berlangsung lebih cepat daripada masa-masa sebelumnya.

Menurut catatan UNDP (2002), pada 1960-an seperlima penduduk dunia yang paling kaya mempunyai pendapatan 30 kali daripada seperlima penduduk paling miskin. Pada 1997, jurang pendapatan itu melebar menjadi 74 kali. Seperlima penduduk di negara-negara kaya menguasai 86% produk domestik bruto (GDP) dunia, sementara seperlima yang termiskin hanya menerima 1% GDP dunia itu.

Di bidang sosial, budaya, dan psikologi, juga berlangsung proses marjinalisasi dan eksploitasi atas nilai-nilai sosial, budaya, dan psikologi masyarakat di negara-negara berkembang. Globalisasi yang berlangsung selama ini cenderung tidak adil. Secara teoretis, semua masyarakat di mana pun punya hak yang sama untuk menyumbang terwujudnya pembentukan budaya global sehingga budaya global yang tercipta mirip adonan atau gado-gado, yang mengakomodasi atau menampung aspirasi dan kepentingan budaya-budaya lokal.

Namun pada praktiknya, yang berlangsung adalah dominannya sistem nilai, selera, dan simbol dari negara-negara maju (terutama Barat) yang memaksakan diterima seluruh masyarakat lokal di setiap sudut dunia. Pada awalnya, masyarakat akan terkagum-kagum dan senang menerimanya. Tetapi cepat atau lambat, secara sosial, budaya dan psikologi, masyarakat lokal di negara-negara berkembang menjadi teralienasi dengan perkembangan budaya global yang digerakkan globalisasi. Jati diri mereka menjadi terganggu sehingga tidak nyaman hidup dalam arah globalisasi. Jati diri, kepentingan, dan nilai-nilai lokal tidak diperhatikan, dipinggirkan, atau malah dilindas oleh kepentingan dan nilai-nilai global yang didominasi kepentingan dan nilai-nilai Barat.

Oleh I Basis Susilo

Dimuat di Jawa Pos, 7 Oktober 2004.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *