Logo Tatakelola strategi

Ekonomi Bukan Sekadar Pasar, tetapi Tentang Manusia, Institusi, dan Kekuasaan

Ekonomi Bukan Sekadar Pasar, tetapi Tentang Manusia, Institusi, dan Kekuasaan

Selama bertahun-tahun, banyak teori ekonomi menggambarkan dunia seolah-olah berjalan seperti mesin yang teratur. Pasar dianggap mampu menciptakan keseimbangan sendiri, individu diasumsikan rasional, dan kebijakan ekonomi dipercaya dapat dikendalikan melalui rumus-rumus tertentu. Dalam pandangan ini, persoalan ekonomi sering dipersempit menjadi angka pertumbuhan, inflasi, suku bunga, atau grafik permintaan dan penawaran. Namun semakin berkembangnya dunia modern, semakin terlihat bahwa ekonomi jauh lebih kompleks daripada sekadar angka statistik. Ekonomi pada akhirnya adalah tentang manusia: tentang pilihan, kekuasaan, institusi, psikologi, dan bagaimana masyarakat mengatur dirinya sendiri.

Berbagai aliran pemikiran modern seperti ekonomi pembangunan, Mazhab Austria, ekonomi perilaku, ekonomi kelembagaan baru (New Institutional Economics), dan Public Choice Theory menunjukkan bahwa ekonomi tidak pernah berdiri sendiri. Masing-masing mencoba menjelaskan mengapa sebagian negara menjadi makmur, mengapa krisis terus berulang, dan mengapa kebijakan yang tampaknya baik di atas kertas sering gagal dalam praktik.

Di antara berbagai pendekatan tersebut, ekonomi pembangunan mungkin menjadi salah satu yang paling relevan bagi dunia saat ini, terutama bagi negara-negara berkembang. Ekonomi pembangunan lahir dari pertanyaan sederhana tetapi sangat mendasar: mengapa ada negara kaya dan ada negara yang tetap miskin?

Pertanyaan ini ternyata tidak bisa dijawab hanya dengan mengatakan bahwa negara miskin kekurangan modal atau teknologi. Banyak negara memiliki sumber daya alam melimpah tetapi tetap tertinggal. Sebaliknya, ada negara kecil dengan sumber daya terbatas seperti Singapura, Korea Selatan, atau Jepang yang justru berhasil menjadi kekuatan ekonomi dunia. Ini menunjukkan bahwa pembangunan bukan hanya soal kekayaan alam, tetapi juga soal kualitas manusia, institusi, pendidikan, dan tata kelola negara.

Ekonomi pembangunan memperlihatkan bahwa kemiskinan sering kali bersifat struktural. Konsep poverty traps atau jebakan kemiskinan menjelaskan bagaimana kemiskinan dapat menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus. Ketika masyarakat miskin tidak memiliki akses pendidikan yang baik, kesehatan yang memadai, atau modal usaha, produktivitas mereka tetap rendah. Karena produktivitas rendah, pendapatan juga rendah. Akibatnya, mereka kembali tidak mampu mengakses pendidikan dan kesehatan yang lebih baik. Siklus ini terus berulang dari generasi ke generasi.

Dalam konteks inilah pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi. Sebuah negara mungkin mengalami pertumbuhan PDB tinggi, tetapi jika hasilnya hanya dinikmati kelompok kecil, maka ketimpangan sosial tetap membesar. Karena itu, ekonomi pembangunan modern mulai menekankan pentingnya pembangunan manusia, pemerataan kesempatan, dan kualitas institusi.

Amartya Sen, salah satu tokoh penting ekonomi pembangunan, bahkan berpendapat bahwa pembangunan seharusnya dipahami sebagai perluasan kebebasan manusia. Menurutnya, negara disebut berkembang bukan hanya ketika pendapatannya meningkat, tetapi ketika masyarakat memiliki akses pendidikan, kesehatan, keamanan, dan kesempatan hidup yang lebih baik. Dengan kata lain, pembangunan adalah soal memperbesar kemampuan manusia untuk menentukan masa depannya sendiri.

Pandangan mengenai pentingnya institusi kemudian diperkuat oleh ekonomi kelembagaan baru. Ronald Coase dan Douglass North menunjukkan bahwa pasar tidak pernah berjalan di ruang hampa. Aktivitas ekonomi membutuhkan aturan, kontrak, hukum, dan kepercayaan sosial. Tanpa institusi yang kuat, biaya transaksi menjadi tinggi dan investasi sulit berkembang.

Hal ini membantu menjelaskan mengapa sebagian negara sulit maju meskipun kaya sumber daya. Korupsi, birokrasi yang tidak efisien, lemahnya perlindungan hukum, dan ketidakpastian politik membuat investor enggan menanamkan modal. Sebaliknya, negara dengan institusi yang stabil cenderung lebih mampu menciptakan inovasi dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Namun tidak semua ekonom percaya bahwa negara mampu menciptakan solusi terbaik. Mazhab Austria justru sangat skeptis terhadap intervensi pemerintah yang berlebihan. Friedrich Hayek dan Ludwig von Mises berpendapat bahwa ekonomi terlalu kompleks untuk direncanakan secara terpusat. Informasi ekonomi tersebar di jutaan individu dan hanya pasar melalui mekanisme harga yang mampu mengoordinasikan informasi tersebut secara efisien.

Hayek menyebut fenomena ini sebagai spontaneous order atau keteraturan spontan. Ketika harga berubah, masyarakat secara otomatis menyesuaikan perilaku mereka tanpa perlu diperintah pemerintah. Karena itu, kaum Austria percaya bahwa pasar bebas dan kebebasan individu lebih efektif dibandingkan perencanaan ekonomi yang terlalu birokratis.

Namun asumsi bahwa manusia selalu rasional kemudian dipatahkan oleh ekonomi perilaku. Daniel Kahneman dan Amos Tversky menunjukkan bahwa manusia sering mengambil keputusan secara emosional, impulsif, dan tidak konsisten. Kita lebih takut rugi daripada senang mendapat keuntungan. Kita mudah dipengaruhi cara suatu pilihan disajikan. Kita sering membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkan, tetapi karena tekanan sosial atau dorongan psikologis.

Ekonomi perilaku memperlihatkan bahwa pasar tidak selalu efisien karena manusia sendiri tidak selalu rasional. Dari sinilah muncul konsep nudge, yaitu dorongan halus dalam kebijakan publik untuk membantu masyarakat membuat keputusan yang lebih baik tanpa menghilangkan kebebasan memilih.

Lalu muncul Public Choice Theory yang memberikan kritik lebih tajam lagi: bagaimana jika pemerintah sendiri tidak selalu bekerja demi kepentingan umum? James Buchanan dan Gordon Tullock berpendapat bahwa politisi dan birokrat juga manusia biasa yang memiliki kepentingan pribadi. Politisi ingin memenangkan pemilu, birokrat ingin memperbesar kekuasaan, dan kelompok kepentingan ingin memperoleh keuntungan melalui pengaruh politik.

Pada akhirnya, seluruh aliran pemikiran ini menunjukkan bahwa ekonomi bukan sekadar soal pasar atau negara. Ekonomi adalah interaksi kompleks antara manusia, institusi, psikologi, kekuasaan, dan sejarah. Pasar memang mampu menciptakan inovasi dan efisiensi, tetapi pasar juga dapat menghasilkan ketimpangan dan krisis. Negara dapat membantu pembangunan, tetapi juga dapat menciptakan distorsi dan kepentingan politik.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *