Kapitalisme sering dipahami sebagai sistem ekonomi yang bertumpu pada kepemilikan privat, pasar bebas, persaingan, dan orientasi keuntungan. Dalam pemikiran Adam Smith, kapitalisme diyakini mampu menciptakan kesejahteraan melalui mekanisme pasar yang bekerja secara alamiah melalui invisible hand. Sistem ini kemudian berkembang menjadi fondasi utama ekonomi global modern melalui perdagangan internasional, industrialisasi, investasi, dan ekspansi perusahaan multinasional.
Namun kapitalisme tidak berkembang dengan pola yang sama di setiap wilayah dunia. Pengalaman Eropa berbeda secara mendasar dengan pengalaman negara-negara bekas koloni seperti Indonesia. Perbedaan inilah yang penting dipahami ketika membicarakan struktur ekonomi Indonesia hari ini. Kapitalisme Eropa tumbuh relatif “organik” dari dalam transformasi sosial masyarakatnya sendiri, sedangkan kapitalisme Indonesia berkembang dalam bayang-bayang kolonialisme dan dominasi modal asing.
Di Eropa Barat, terutama Inggris, kapitalisme berkembang melalui proses sejarah yang panjang sejak runtuhnya feodalisme. Pada awalnya masyarakat Eropa didominasi sistem agraris feodal, di mana tanah dikuasai bangsawan dan sebagian besar rakyat bekerja sebagai petani yang terikat pada tuan tanah. Produksi ekonomi masih bersifat lokal dan tradisional.
Perubahan mulai terjadi ketika perdagangan internasional berkembang pesat sejak abad ke-16. Penjelajahan samudra, kolonialisme, dan perdagangan global melahirkan kelas pedagang baru yang memperoleh keuntungan besar dari perdagangan rempah-rempah, tekstil, budak, dan berbagai komoditas dunia. Dari sinilah muncul kelas borjuis, yaitu kelompok pemilik modal yang perlahan menantang dominasi aristokrasi feodal.
Salah satu momen penting dalam lahirnya kapitalisme Eropa adalah enclosure movement di Inggris. Tanah-tanah bersama milik desa diprivatisasi menjadi lahan produksi komersial. Akibatnya banyak petani kehilangan akses terhadap tanah dan berubah menjadi buruh upahan. Proses ini menciptakan tenaga kerja bebas yang kemudian menjadi fondasi kapitalisme industri.
Kapitalisme Eropa mencapai puncak transformasinya melalui revolusi industri pada abad ke-18 dan ke-19. Penemuan mesin uap, perkembangan pabrik, dan inovasi teknologi mengubah sistem produksi secara besar-besaran. Produksi tidak lagi dilakukan secara manual di rumah tangga kecil, tetapi di pabrik dengan tenaga kerja massal. Inggris kemudian menjadi pusat industrialisasi dunia yang diikuti Prancis, Jerman, dan negara Eropa lainnya.
Dengan demikian, kapitalisme Eropa berkembang melalui kombinasi industrialisasi domestik, kemajuan teknologi, pembentukan pasar nasional, serta munculnya kelas borjuis nasional yang kuat. Negara modern di Eropa juga tumbuh untuk mendukung kapitalisme nasional melalui perlindungan hak milik, pembangunan infrastruktur, dan penguatan industri dalam negeri.
Sebaliknya, kapitalisme di Indonesia berkembang melalui jalur yang sangat berbeda. Indonesia tidak mengalami revolusi industri seperti Eropa. Kapitalisme masuk melalui kolonialisme Belanda yang menjadikan Hindia Belanda bagian dari sistem ekonomi dunia. Struktur ekonomi kolonial dibangun bukan untuk menciptakan industrialisasi nasional, melainkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dan industri di Eropa.
Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) pada abad ke-19 menunjukkan bagaimana tanah, tenaga kerja, dan hasil pertanian masyarakat Nusantara dipaksa untuk kepentingan akumulasi modal kolonial. Kopi, gula, teh, dan berbagai komoditas ekspor diproduksi bukan untuk kesejahteraan masyarakat lokal, tetapi untuk memperkuat ekonomi Belanda. Indonesia sejak awal ditempatkan sebagai pemasok bahan mentah bagi kapitalisme dunia.
Di titik inilah kapitalisme Indonesia memiliki fondasi yang problematis. Jika kapitalisme Eropa tumbuh dari transformasi internal masyarakatnya sendiri, kapitalisme Indonesia justru dipaksakan dari luar melalui kekuasaan kolonial. Akibatnya, struktur ekonomi Indonesia berkembang dalam posisi subordinat terhadap pasar global.
Perbedaan paling mendasar terlihat pada pembentukan kelas kapitalis nasional. Di Eropa, kapitalisme melahirkan borjuis nasional yang kuat dan menjadi motor industrialisasi. Sementara di Indonesia, modal besar sejak awal dikuasai oleh perusahaan kolonial dan kekuatan asing. Borjuasi nasional berkembang terlambat dan relatif lemah.
Selain itu, kapitalisme Eropa berkembang bersama industrialisasi, sedangkan Indonesia berkembang sebagai ekonomi ekstraktif yang bergantung pada ekspor sumber daya alam. Hingga hari ini struktur ekonomi Indonesia masih bertumpu pada batu bara, kelapa sawit, nikel, dan berbagai komoditas mentah lainnya. Nilai tambah industri sering kali justru dinikmati negara-negara maju.
Warisan kolonial tersebut masih sangat terasa dalam hubungan antara negara dan kapital. Di Eropa, negara modern dibentuk untuk memperkuat kapitalisme nasional. Sementara di Indonesia, negara kolonial sejak awal berfungsi melindungi kepentingan modal asing. Dalam banyak kasus, warisan ini terus berlanjut ketika negara lebih dekat dengan kepentingan oligarki ekonomi dibanding kepentingan masyarakat luas.
Namun demikian, kapitalisme juga tidak dapat dipahami sepenuhnya sebagai sistem yang buruk. Dalam banyak hal, kapitalisme berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi, inovasi teknologi, dan pembangunan infrastruktur. Negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok bahkan berhasil memanfaatkan mekanisme pasar untuk memperkuat kapasitas nasional mereka.
Persoalannya bukan sekadar menerima atau menolak kapitalisme, tetapi bagaimana mengendalikan kapitalisme agar tidak hanya melayani akumulasi keuntungan segelintir elite. Indonesia menghadapi tantangan besar untuk keluar dari pola kapitalisme kolonial yang bergantung pada ekspor bahan mentah dan investasi asing. Tanpa transformasi industrialisasi, pemerataan kesejahteraan, dan penguatan ekonomi nasional, kapitalisme Indonesia akan terus berkembang dalam posisi pinggiran dalam sistem ekonomi global.
Karena itu, memahami perbedaan sejarah kapitalisme Eropa dan Indonesia penting bukan hanya untuk membaca masa lalu, tetapi juga untuk menentukan arah masa depan pembangunan Indonesia.
